Lukisan potret kolektif ini dikerjakan pasca perhelatan Pameran Bersama Sanggar Bumi Tarung yang kedua pada 19 – 29 Juli 2008 di Galeri Nasional Indonesia. Kala itu setelah acara, Misbach Tamrin dan Amrus Natalsya singgah di Mess Galeri Nasional Indonesia, personil lainnya datang lalu bersama-sama melukis karya lukisan Diskusi di Sanggar Bumi Tarung. Sebelumnya karya serupa pernah dibuat oleh Misbach Tamrin dengan judul "Diskusi dalam Sanggar Bumi Tarung".
Karya ini diyakini bernilai historis yang sangat kuat, ditandai anggota-anggota Sanggar Bumi Tarung tergambarkan sedang berdiskusi dengan rasa kekeluargaan, keakraban dan kehangatan, digarap dengan gaya realis. Terlihat detail-detail dalam lukisan yang menegaskan keberpihakan Sanggar Bumi Tarung kepada gerakan rakyat, misalnya buku Pramoedya Ananta Toer yang tergeletak di meja, lukisan celeng (babi hutan) khas Joko Pekik tergantung di dinding, dan suasana keseharian rakyat jelata yang tergambar di balik jendela.
Sanggar Bumi Tarung berdiri pada Tahun 1962 dalam lingkungan Kampus ASRI Yogyakarta oleh sekelompok seniman muda ASRI. Mereka juga bagian dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Dapat dikatakan keberadaan LEKRA sejalan dengan semangat Bumi Tarung. Peristiwa 1965 membuat Sanggar Bumi Tarung berusia cukup pendek, meskipun begitu gaung karya-karya Sanggar Bumi Tarung masih tetap mengisi sejarah dan perkembangan seni rupa hingga saat ini.