Sejarah Koleksi

Memahami proses pembentukan dan perkembangan koleksi sebagai bagian dari dokumentasi seni.

1948
Panitia Pembelian Karya Seni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dr. Prijono, Dr. Sularko, Affandi, Basuki Resobowo, Rusli, Mohd. Hadi, Nyi Hadjar Dewantoro, dan lain-lain) mulai mengoleksi karya seni, di antaranya Tjap Go Meh karya S. Sudjojono dan Ibuku karya Affandi.

1950-an
Kusnadi, Bagong Kussudiardjo, Handrio, Sumitro, Kirdjomuljo, dan Nasjah Djamin mengoleksi karya seni di bawah Bagian Seni Rupa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

1959
Ilen Surianegara dan Etiennette Benichou mengorganisir sumbangan karya seni dari seniman-seniman Paris berupa 163 lukisan dan litograf karya Vasily Kandinsky, Sonia Delaunay, Hans Hartung, Hans Arp, dan lainnya.

1968
Seniman Oesman Effendi menyumbangkan sekitar 100 koleksi lukisan dan sketsanya kepada Museum Nasional.

1972
Sejalan dengan proyek Wisma Seni Nasional, Abas Alibasjah selaku pemimpin Wisma Seni Nasional dan Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan mulai mengoleksi karya seni.

1976
Direktorat Jenderal Kebudayaan mengoleksi lukisan Raden Saleh berjudul Zinken Schip.

1983
Basoeki Abdullah menghibahkan lukisan berjudul Merapi Yang Tak Kunjung Padam.

1995
Setelah Pameran Seni Rupa Kontemporer Negara-Negara Non-Blok, pemerintah Indonesia menerima donasi 29 karya seni dari seniman Arab Saudi, Kuwait, Kuba, India, Yordania, Peru, Sudan, Vietnam, dan Kamboja.

1998–sekarang
Sejak resmi berdiri pada tahun 1998, Galeri Nasional Indonesia menerima berbagai sumbangan karya seni serta melakukan akuisisi koleksi.

Sejarah

Sejarah Gedung

Menelusuri perjalanan bangunan galeri sebagai ruang yang berkembang bersama aktivitas seni.

Lihat Selengkapnya

Sejarah Kelembagaan

Mengenal perkembangan galeri sebagai lembaga budaya dalam ekosistem seni rupa.

Lihat Selengkapnya

Tentang Kami