Kali ini, Pameran Tetap GNI mengusung pendekatan kuratorial dengan menyajikan karya-karya yang merepresentasikan sejarah seni rupa modern dan kontemporer Indonesia secara kronologis—mulai dari abad ke-19 hingga era terkini. Menyoroti ragam dimensi seperti kemanusiaan, ekologi, sejarah, budaya etnik, dinamika sosial-politik, spiritualitas, hingga persoalan kontemporer, pameran ini menyajikan narasi lintas zaman yang reflektif.
Menampilkan 229 karya mencakup koleksi GNI, karya komisi, serta pinjaman dari kolektor dan seniman, pameran ini diposisikan sebagai medium artikulatif—menjadi cermin pergulatan wacana, ekspresi, gagasan, dan respons kreatif 166 perupa terhadap perubahan sosial dan tantangan zaman dalam lanskap kebudayaan Indonesia.
Transformasi ini melanjutkan tradisi pembaruan yang telah menjadi karakter Pameran Tetap GNI sejak awal penyelenggaraannya. Pameran Tetap GNI telah mengalami beberapa penataan ulang sejak sebelum 2013, ketika karya seni ditampilkan secara bergilir berdasarkan tiga kategori: kronologi sejarah seni rupa modern Indonesia, tema tertentu seperti pemandangan alam dan abstrak, serta karya seniman mancanegara.
Pada 2013–2015, pameran ditutup untuk revitalisasi, dan pada 2015 dibuka kembali dengan konsep periodisasi sejarah seni rupa Indonesia, meliputi Galeri 1 untuk seni rupa modern dan internasional, serta Galeri 2 untuk seni rupa kontemporer. Pada 2019, Pameran Tetap diperbarui melalui tiga pendekatan kuratorial: Monumen Ingatan yang menampilkan karya-karya koleksi GNI yang dikontekstualisasikan dalam perkembangan sejarah nasional; Paris 1959 Jakarta 1995 yang menampilkan koleksi internasional GNI yang utamanya bersumber dari dua peristiwa penting yaitu hibah seniman-seniman dunia yang berbasis di Paris pada tahun 1959 melalui Atase Kebudayaan dan Pers Bapak Ilen Surianegara, serta hibah dari seniman peserta Pameran Gerakan Non-Blok tahun 1995 di Jakarta; serta Kode /D, sebuah pameran tematik berkala yang memamerkan sejumlah koleksi dari 20 Tahun Akusisi Karya Seni Rupa oleh GNI dalam rentang tahun 1999–2019.
Esti Nurjadin, Kepala Museum dan Cagar Budaya, menyampaikan, “Penataan ulang Pameran Tetap GNI harus dilakukan untuk memunculkan kebaruan secara berkelanjutan dan menjaga relevansi karya-karya koleksi Galnas dengan konteks terkini. Transformasi ini juga kami lihat sebagai peluang untuk memperkuat peran museum dalam ekosistem ekonomi kreatif.” Ia menambahkan bahwa dengan pendekatan kuratorial yang segar dan pengelolaan yang adaptif, Pameran Tetap GNI diharapkan mampu menarik lebih banyak kunjungan, memperluas kolaborasi lintas sektor, serta membuka potensi baru untuk berbagai program.
Pameran Tetap GNI dengan konsep penyajian yang baru dan segar tidak hanya menawarkan pengalaman visual yang mendalam, tetapi juga menjadi ruang edukasi yang menarik bagi berbagai kalangan. Publik diundang untuk menjadikan momen ini sebagai kesempatan menikmati karya-karya seni rupa terbaik yang merefleksikan dinamika pemikiran dan perjalanan seni rupa Indonesia.
Selain itu, publik juga diberi kesempatan untuk terlibat secara langsung dalam proses kreatif di RAK (Ruang Aktivitas Anak dan Keluarga). Di RAK, pengunjung dapat berkreasi mewarnai gambar, bermain kartu tarot koleksi Galeri Nasional Indonesia, serta membuat mural.
Pengunjung dapat mengapresiasi Pameran Tetap Galeri Nasional Indonesia mulai 22 Juli 2025, pukul 10.00–20.00 WIB setiap hari, kecuali hari libur nasional. Pengunjung dapat melakukan registrasi dan pembelian tiket secara langsung di Galeri Nasional Indonesia maupun melalui aplikasi Traveloka dengan harga tiket:
- Pelajar (PAUD sampai mahasiswa) Rp25.000
- Dewasa Rp50.000
- Warga Negara Asing Rp150.000
- Warga Negara Asing pemegang KITAS Rp50.000
- Rombongan (minimal 30 orang) diskon 20%
- Rp0 rupiah untuk anak 0-3 tahun, lansia di atas 60 tahun, penyandang disabilitas, yatim piatu (pelajar), pemegang KIP dan KIPK, dan pemandu rombongan (1 orang).
Harga tiket ini berlaku untuk menikmati seluruh pameran/program yang sedang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia.
Tentang Museum dan Cagar Budaya
Museum dan Cagar Budaya (MCB) merupakan badan layanan umum di bawah naungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang saat ini bertanggung jawab atas pengelolaan 19 museum dan galeri serta 34 situs cagar budaya nasional di Indonesia. Terbentuk pada tahun 2022 dan diresmikan menjadi badan layanan umum per 1 September 2023, MCB mempunyai visi menjadi institusi yang bersifat kolaboratif dan mendorong daya cipta, perubahan sosial, serta pembangunan masyarakat yang berbudaya.
MCB mengedepankan peningkatan pelayanan yang berbasis perlindungan sebagai prioritas utama dengan merangkul kreativitas dan mengusung semangat kolaborasi yang inklusif. MCB secara kolektif berkontribusi untuk membuka wawasan dan apresiasi mendalam terhadap warisan budaya Indonesia yang beragam.
Tentang Galeri Nasional Indonesia
Galeri Nasional Indonesia, di bawah naungan Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan, merupakan museum seni rupa yang berkomitmen untuk melestarikan dan merepresentasikan seni rupa modern dan kontemporer Indonesia. Sejak berdiri pada 1998, museum yang berlokasi di Jakarta Pusat ini mengoleksi karya-karya seperti lukisan, sketsa, grafis, patung, keramik, fotografi, seni kriya, seni instalasi, video art, seni media, dan media alternatif lainnya. Koleksi dengan status koleksi negara tersebut merupakan karya-karya prestisius para seniman Indonesia dan mancanegara seperti Raden Saleh, S. Sudjojono, Affandi, Basoeki Abdullah, Ahmad Sadali, Fadjar Sidik, FX Harsono, Heri Dono, Wassily Kandinsky (Rusia), Zao Wou Ki (Tiongkok), dan lainnya.
Aktivitas Galeri Nasional Indonesia meliputi beragam program kolaboratif dan interaktif berskala nasional dan internasional, baik berupa pameran, edukasi, konservasi, serta kerja sama dengan berbagai pihak. Galeri Nasional Indonesia terus mendorong pelestarian dan inovasi terkait seni rupa Indonesia sehingga dapat menjadi warisan berharga bagi lintas generasi sepanjang masa.Wajah Baru Pameran Tetap Galeri Nasional Indonesia