Menurut Ketua Yayasan Cemara Enam, Inda C. Noerhadi, “Sejak awal penyelenggaraannya, IWA digagas sebagai platform apresiasi sekaligus upaya untuk ‘melihat’ kesenimanan perempuan perupa di Indonesia secara lebih mendalam. Tahun ini, IWA #4: ON THE MAP sekaligus menjadi pemungkas seri IWA sebelum penyelenggaraan Biennale/Triennale Perempuan pada masa yang akan datang.”
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin mengungkapkan, “Pameran IWA memiliki arti penting karena menghadirkan ruang dokumentasi, presentasi, dan pertemuan karya dengan publik secara berkelanjutan. Sejak dimulai pada 2007, rangkaian pameran ini menunjukkan komitmen dalam membangun arsip kultural sekaligus meneguhkan kontribusi perupa perempuan dalam percakapan kebudayaan yang lebih luas.”
Pameran IWA #4 kali ini dikuratori oleh Carla Bianpoen, Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi dengan menghadirkan karya-karya 12 perupa perempuan lintas generasi. Mereka adalah Bibiana Lee, Citra Sasmita & Cinta Bumi Artisan, Dyantini Adeline, Endang Lestari, Ines Katamso, Irene Agrivina, KaNA Fuddy Prakoso, Ni Nyoman Sani, Nona Yoanishara, Rani Jambak, Tara Kasenda, dan Ve Dhanito.
Melalui tema On The Map, pameran ini mengangkat konsep situated knowledge—pengetahuan yang lahir dari pengalaman tubuh dan konteks personal—para perupa mengeksplorasi ingatan, empati, rasa memiliki, hingga proses kognitif. Pendekatan ini juga meluas ke relasi dengan alam dan lingkungan, di mana tanah, langit, dan unsur alam lainnya diperlakukan sebagai subjek yang menyimpan narasi, sekaligus menjembatani pengalaman lokal dengan perspektif yang lebih universal.
Gagasan peta juga muncul dalam pembacaan warisan budaya dan sejarah perempuan, mulai dari figur Ratu Kalinyamat hingga praktik seni tradisional yang diwariskan lintas generasi. Beberapa karya turut mengajak publik terlibat dalam proses pembelajaran dan pelacakan sejarah keperempuanan Nusantara, yang sarat implikasi sosial, kultural, dan politik. Meski dapat dibaca melalui tema tubuh, alam, dan warisan budaya, keseluruhan karya saling berkelindan, menunjukkan bahwa pengetahuan berbasis pengalaman tidak mudah dipisahkan secara tegas, melainkan hadir sebagai lanskap yang kompleks dan saling terhubung.
Dalam hal ini, Museum dan Cagar Budaya melalui Galeri Nasional Indonesia sebagai bagian dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia berkomitmen untuk terus berupaya menghadirkan ruang yang terbuka bagi praktik seni yang beragam dan inklusif. Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pelestarian karya, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan gagasan, dialog budaya, serta pengembangan pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat.
Pameran IWA #4: ON THE MAP dapat dinikmati pengunjung mulai 10 April hingga 30 Juni 2026 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. Pameran buka setiap hari Selasa-Kamis pukul 10.00-18.00 WIB dan Jumat-Minggu pukul 10.00-20.00 WIB. Pengunjung dapat mengapresiasi pameran ini dengan melakukan registrasi dan pembelian tiket secara langsung di Galeri Nasional Indonesia maupun secara online melalui aplikasi Traveloka dan tiket.com. Harga tiket kawasan Galnas saat ini Rp25.000,- untuk pelajar dari tingkat PAUD hingga mahasiswa, Rp50.000,- untuk pengunjung usia dewasa, Rp150.000,- untuk Warga Negara Asing (WNA), Rp50.000,- untuk pengunjung WNA pemegang KITAS, serta Rp0,- untuk anak usia kurang dari tiga tahun, dewasa lebih dari 60 tahun, penyandang disabilitas, yatim piatu, pemilik KIP dan KIPK. Harga tiket ini berlaku untuk menikmati seluruh pameran yang sedang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia.
Selain pameran, IWA #4: ON THE MAP juga menghadirkan sejumlah program publik. Informasi lebih lanjut tentang pameran dan berbagai aktivasi program publik IWA #4: ON THE MAP dapat diakses melalui akun Instagram @galerinasional dan @indonesianwomenartists.
Tentang Museum dan Cagar Budaya
Museum dan Cagar Budaya (MCB) merupakan badan layanan umum di bawah naungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang saat ini bertanggung jawab atas pengelolaan 19 museum dan galeri serta 34 situs cagar budaya nasional di Indonesia. Terbentuk pada tahun 2022 dan diresmikan menjadi badan layanan umum per 1 September 2023, MCB mempunyai visi menjadi institusi yang bersifat kolaboratif dan mendorong daya cipta, perubahan sosial, serta pembangunan masyarakat yang berbudaya.
MCB mengedepankan peningkatan pelayanan yang berbasis perlindungan sebagai prioritas utama dengan merangkul kreativitas dan mengusung semangat kolaborasi yang inklusif. MCB secara kolektif berkontribusi untuk membuka wawasan dan apresiasi mendalam terhadap warisan budaya Indonesia yang beragam.
Tentang Galeri Nasional Indonesia
Galeri Nasional Indonesia, di bawah naungan Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan, merupakan museum seni rupa yang berkomitmen untuk melestarikan dan merepresentasikan seni rupa modern dan kontemporer Indonesia. Sejak berdiri pada 1998, museum yang berlokasi di Jakarta Pusat ini mengoleksi karya-karya seperti lukisan, sketsa, grafis, patung, keramik, fotografi, seni kriya, seni instalasi, video art, seni media, dan media alternatif lainnya. Koleksi dengan status koleksi negara tersebut merupakan karya-karya prestisius para seniman Indonesia dan mancanegara seperti Raden Saleh, S. Sudjojono, Affandi, Basoeki Abdullah, Ahmad Sadali, Fadjar Sidik, FX Harsono, Heri Dono, Wassily Kandinsky (Rusia), Zao Wou Ki (Tiongkok), dan lainnya.
Aktivitas Galeri Nasional Indonesia meliputi beragam program kolaboratif dan interaktif berskala nasional dan internasional, baik berupa pameran, edukasi, konservasi, serta kerja sama dengan berbagai pihak. Galeri Nasional Indonesia terus mendorong pelestarian dan inovasi terkait seni rupa Indonesia sehingga dapat menjadi warisan berharga bagi lintas generasi sepanjang masa.
Tentang Cemara 6 Galeri - Toeti Heraty Museum
Cemara Enam adalah sebuah rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, yang telah berdiri lebih dari 80 tahun. Pada tahun 1969, rumah ini ditempati oleh Prof. Dr. Toeti Heraty, yang kemudian menginisiasi transformasinya menjadi galeri seni pada tahun 1993. Seiring perkembangannya, pada Desember 1996, Cemara 6 Galeri dipindahkan ke Jalan HOS Cokroaminoto No. 9–11, yang terletak di bagian belakang Jalan Cemara No. 6.
Tempat ini mengakomodasi pameran seni rupa dan berbagai aktivitas budaya, dilengkapi kafe, art shop, perpustakaan, serta homestay bagi pengunjung. Sementara itu, Cemara No. 6 difungsikan sebagai Museum Koleksi Pribadi Toeti Heraty yang menyimpan lukisan, patung, dan buku-buku yang dikoleksi sejak 1959.
Mengusung konsep galeri-rumah, ruang ini menghadirkan pengalaman estetik sekaligus relaksasi. Melalui program pameran dan diskusi, Cemara 6 Galeri–Toeti Heraty Museum mendorong partisipasi publik serta memperluas pemahaman hubungan antara seni, budaya, dan masyarakat, sebagai bagian dari hak dasar manusia untuk berekspresi secara bebas dan kreatif.
Didukung oleh
Dana Indonesiana
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)
Kementerian Ekonomi Kreatif / Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta
Biro Oktroi Roosseno
PT Bank UOB Indonesia
Panasonic Indonesia
Cycare Hemodialysis Clinic
PT Pegadaian
Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia
Musee ID
Lingkar Warisan Kota Tua
Lingkar Budaya Indonesia
HONU Poke & Matcha Bar
Villa Cemara Umalas - Bali
Solida Ramly
Mitra
Dewan Kesenian Jakarta
Indonesian Visual Art Archive
Mitra Media
Metro TV
Metrotvnews.com
Kompas.id
Republika
IndoArtNow
Ruru Radio
Tempo