Lukisan Tjap Go Meh menggambarkan kegembiraan (euforia) masyarakat Tionghoa dalam menyambut perayaan Cap Go Meh. Lukisan ini sedikit menyimpang dari banyak lukisan pada periode waktu yang sama (realisme). Dalam karya ini Sudjojono mengindahkan proporsi-anatomi dan yang nampak adalah figur-figur yang naif. Tjap Go Meh diposisikan sebagai karya terunik dan fenomenal dari deretan konstelasi karya Sudjojono.
Melalui cara Sudjojono menggambarkan, terbukti betapa Sudjojono memahami benar yang terjadi pada momen Cap Go Meh atau hari ke 15 perayaan Tahun Baru Imlek. Sudjojono merekam suasana pesta tahun baru itu dengan ironi-ironinya; tahun di sekitar perjuangan revolusi kemerdekaan (1940-an) yang serba sulit secara ekonomi, sosial, dan politik, tetapi pesta tahun baru harus tetap berlangsung. Sebuah ironi mengenai ketimpangan sosial, salah satunya terkait dengan tekanan pemerintah kolonial yang kian keras pada Bangsa Indonesia.
Jiwa Sudjojono Tampak/Terlihat melalui spontanitas penggambaran elemen-elemen visual pada Tjap Go Meh, ditandai dengan kesengajaan mendeformasi orang-orang dalam arakan dan warna-warnanya yang kuat, mendukung seluruh ekspresi dalam pesta. Dalam lukisan tersebut seorang wanita berkebaya larut dalam tarian dan menggandeng seorang bertopeng, diapit oleh seorang berdasi dan seorang pemusik bertopeng buaya. Di sisi kanannya ada seorang kerdil yang berdiri tegak termangu-mangu, sedangkan di latar belakang berombak massa yang berarak dan menari dalam suasana kegembiraan. Hal tersebut merupakan implementasi dari perjuangan estetika Sudjojono yang mengandung moral etik kontekstualisme dan nasionalisme.
Sudjojono dalam masa Persagi dan masa Jepang berusaha menciptakan seni lukis Indonesia pada arah baru, seperti yang sangat kuat disuarakan lewat tulisan-tulisan dan karyanya. Jiwa semangat itu adalah menolak estetika seni lukis Mooi Indie yang hanya mengungkapkan keindahan dan eksotisme saja. Dia ingin membawa nafas baru pengungkapan seni lukis yang jujur dan empati yang dalam dari realitas kehidupan masyarakat lewat gaya ekspresionisme. Dengan kapasitas kesadaran dan karya-karya yang diperjuangkan tersebut, banyak pengamat yang menempatkan Sudjojono sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia.